Memaparkan catatan dengan label Soal Jawap Agama. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Soal Jawap Agama. Papar semua catatan

05 Oktober 2011

WANITA - HUKUM MENCABUT BULU KENING

Pensyarah Jabatan Al-Quran dan Sunnah,
Kolej Universiti Islam Antarabangsa Selangor (KUIS) 


SOALAN:
Adakah berdosa sekira seorang wanita membersihkan bulu kening dengan mencabut bulu kening yang bertaburan di atas kelopak mata?. Dalam perkara ini wanita itu tidak mencabut bulu kening sehingga cuma tinggal segarisan sahaja atau langsung hilang keningnya.Ia cuma untuk mencabut bulu kening yang bertaburan di atas kelopak mata bagi nampak kemas. 


Jawapan:
Tidak berdosa sekiranya untuk memperbetulkan atau mengelokkan dengan membuang atau mencabut bulu yang bertaburan di atas kelopak mata. Ini akan saya jelaskan pada perbincangan dalil-dalil yang berkaitan dengan persoalan ini.


Sebelum berbincang lebih jauh elok kalau kita lihat dulu asas kepada perkara ini. Wanita dalam bahasa arab di sebut dengan perkataan al-Mar'ah yang bermaksud suatu yang dipandang atau dilihat.


Kecantikan seseorang itu bermula dengan wajahnya.Sebab itulah kaum wanita amat mengambil berat mengenai kecantikan, terutamanya kecantikan wajah kerana wajah yang pertama dipandang orang apabila berjumpa.Oleh itu, ramai di kalangan wanita sanggup membelanjakan wang beribu ringgit untuk tujuan mencantikkan wajah.


Salah satu bahagian yang menjadi tumpuan pengubahsuaian bagi kaum hawa ini ialah kening.Sehingga persoalan kening begitu mendapat perhatian dalam Islam,terutamanya melalui hadis-hadis Rasulullah SAW.Tidak dinafikan bahawa ada di kalangan kaum wanita yang keningnya bermasalah dari segi lebat atau nipisnya atau bulu kening bersambung antara kening kanan dan kiri.


Setiap manusia mahu dia tampil secara sempurna dan tidak menyakitkan mata orang yang memandang, apatah lagi menjadi perhatian sehingga membawa kepada suara-suara sumbang yang memperkatakan bulu keningnya.
Kaum wanita memang cerewet mengenai kecantikan wajah, dan tidak mahu wajahnya mempunyai cacat cela. Untuk mengatasi sebarang kekurangan kaum hawa ini akan berusaha untuk memperbaikinya. Sehingga kadang-kala mengenepikan tuntutan agama demi kepuasan diri sendiri tanpa mempedulikan apa kata agama dalam persoalan mencukur dan membentuk kening yang tajam, atau dicukur kening yang asal kemudian diganti dengan kening yang dilukis dengan pencil celak.


Di dalam kitab kitab-kitab hadis ada empat hadis yang membawa makna yang sama pada asasnya, namun setiap nas ada perincian yang membolehkan penghasilan hukum dalam persoalan yang dibincangkan.
Perkara ini membabitkan satu riwayat berkaitan dengan riwayat Imam Al-Tabari, bahawa isteri Abu Ishaq pergi ke rumah Aisyah Ummul-Mukminin, isteri Rasulullah SAW. Pada waktu itu rupa parasnya sangat jelita. Beliau lalu bertanya kepada Aisyah r.a mengenai hukum seorang wanita yang membuang bulu-bulu yang terdapat di dahinya untuk tujuan menambat hati suaminya.


Aisyah r.a menjawab: "Hapuskanlah kejelekan yang ada pada dirimu sedaya yang kamu mampu". Imam Nawawi berpendapat sesungguhnya jawapan Aisyah kepada wanita itu membawa maksud wanita boleh bersolek untuk suami, boleh merawat muka untuk menghilangkan kejelekan seperti jerawat, jeragat dan bintik-bintik.


Jelas di sini adanya keharusan untuk mengelokkan wajah dengan membersihkan wajah daripada bulu-bulu yang tumbuh di kawasan kelopak mata atau di kawasan yang tidak sewajarnya.


Ini kerana wanita yang normal pastinya kening berbulu tetapi sudah tidak normal kalau dahinya atau kelopak matanya yang berbulu.


Daripada Abdullah bin Masud, daripada Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: Allah melaknat wanita-wanita yang mencabut bulu kening atau bulu muka (al-Namisah) atau meminta orang lain mencukur atau mencabut bulu keningnya (al-Mutanammisah) , wanita yang mengasah gigi supaya kelihatan cantik.. Perbuatan itu telah mengubah ciptaan Allah. (riwayat al-Bukhari, Muslim, Abu Daud)


Ibn Hajar pula berpendapat, ia bermaksud wanita yang mencabut bulu-bulu di muka dengan alat pencabut.
Pendapat ini perlu kepada perincian kerana lafaz dalam pandangan ini ialah mencabut bulu. Mengikut biologi kejadian manusia satu-satu kawasan yang ditumbuhi bulu di wajah wanita ialah kening. Jadi lafaz mencabut bulu di wajah maksudnya kening, ini kerana kening adalah sebahagian daripada wajah, bukannya wajah sebahagian daripada kening.
Kalau difahami secara zahir pastinya apa-apa sahaja yang tumbuh di wajah wanita tidak boleh dicabut, termasuklah kalau ada bulu yang tumbuh di pipi, di dagu, atau tumbuh misai kerana semua ini tumbuh di wajah.


Sehingga keharusan diberikan kepada mereka yang mempunyai bulu kening yang panjang atau lebat untuk dipendekkan dan dikemaskan. Perbuatan yang ditegah dan dihukum haram adalah ke atas mereka yang mencukur habis bulu kening kemudian melukisnya dengan pencil celak. Maka golongan ini sebenarnya yang dimaksudkan oleh hadis-hadis Rasulullah SAW yang dianggap sebagai kaum yang mengubah ciptaan Allah SWT.

Read more ...

22 Jun 2011

Abdurrahman Al Baghdadi - Menjawab Persoalan Imam Mahdi, Dajjal Dan Yahudi

Ustadz Abdurrahman Al Baghdadi tidak saja terkenal sebagai pelopor Hizbut Tahrir di Indonesia, namun juga memiliki wawasan mengenai kajian akhir zaman yang mendalam. Analisa-analisanya pun terkenal tajam, salah satunya bagaimana beliau mengaitkan konteks revousi Timur Tengah dengan fenomena akhir zaman.

Wartawan Eramuslim.com yang diwakili Aditya Nugroho dan Muhammad Pizaro mendapat kesempatan berdiskusi panjang lebar dengan beliau sesaat setelah ulama berkewarganegaraan Australia ini memberikan tausiyahnya bersama Syekh Imran Hosein mengenai masa depan Islam, sabtu 11/06/2011 di Mesjid Raya Bogor. Berikut petikan wawancara kami.

Ustadz, Apa Tanda-Tanda Kedatangan Al Mahdi?

Banyak tanda-tanda bahwa Imam Mahdi muncul setelah adanya masa yang penuh kezaliman penguasa. Masa yang cukup panjang bahwa penguasa dimana-mana bertindak zolim di dunia Islam. Semua zalim. Tapi yang jelas Al Mahdi turun di Madinah.

Kalau Dajjal Sendiri Kapan Datang?

Dia muncul di masa Imam Mahdi. Riwayat hadis mengatakan Imam Mahdi akan berkuasa selama 7-9 tahun. Dan Dajjal akan menghimpun kekuatan dari Yahudi di seluruh mancanegara dan dikosentrasikan di Palestina. Dari Asfahan (Iran), Nabi menyebut dalam sebuah hadis, Dajjal akan merekrut 70 ribu Yahudi bertopi. (“Pengkuti Dajjal dari Yahudi Isfahan ada tujuh puluh ribu orang. Mereka memakai pakaian gamis”. Musnad Ahmad IV)

Ada juga hadis, tapi ada yang mengkritik hadis ini, menyebut bahwa dia muncul setelah terjadinya kemarau selama tiga tahun. Kemarau meliputi seluruh bumi. Pada tahun pertama hujan akan kurang sepertiga dari biasa  dan pada tahun kedua akan kurang 2/3 dari biasa dan tahun ketiga hujan tidak akan turun langsung. Kita lihat sekarang sudah mulai diperbincangkan tentang Global Warming. Amerika juga mengalami cuaca ekstrim.

Kalau Naturei Karta, Apakah Juga Masuk Dalam Kategori Yahudi Bertopi dalam Hadis Tersebut?

Bisa jadi, karena Dajjal nanti akan dianggap sebagai juru selamat dan dinantikan oleh mereka. Jadi Dajjal dianggap sebagai al masih, bukan Nabi Isa, Yahudi tidak percaya Nabi Isa.

Syekh Imran Hosein Berkata Bahwa Yajuj Majuj Sudah Muncul Yaitu Masyarakat Eropa Saat Ini Yang Mendukung Zionisme. Tanggapan Ustadz?

Tidak. Ya’juj Ma’juj muncul bahkan sesudah Nabi Isa membunuh Dajjal. Saat itu baru Ya’juj Ma’juj keluar. Tapi dibinasakan oleh Allah tanpa melalui peperangan.

Apakah Mungkin Israel Hancur Sebelum Keluarnya Dajjal?

Tidak mungkin karena peperangan antara Umat Islam dan Yahudi terjadi saat setelah munculnya Dajjal. Maka, setelah Dajjal dikalahkan dan dibunuh di Palestina. Terbunuhnya Dajjal adalah tanda kehancuran Yahudi, karena jumlah mereka sudah mati banyak. Tidak ada yang selamat dari mereka. Kemudian kata Nabi kalau kaum muslimin sudah menguasai Baitul Maqdis di Palestina maka kiamat berarti sudah lebih dekat. Maka muncul banyak gempa di bumi, banyak kejadian yang aneh, banyak peristiwa yang mengerikan.

Ada yang Mengatakan Al Mahdi Turun Untuk Melanjutkan Kekhilafahan. Sebagian Lain Mengatakan Untuk Mendirikan Khilafah. Pandangan Ustadz?

Ada hadis, walaupun diktirik oleh sebagian kalangan, dari riwayat Abu Dawud yang menyebutkan bahwa Imam Mahdi muncul setelah wafatnya seorang kholifah. Jadi kholifah sudah ada.
Ada riwayat yang menyebut dia muncul setelah tiga anak kholifah berebut kekuasaan dan kekayaan.
Akan berperang (memperebutkan) pundi-pundi kalian tiga orang. Mereka semua adalah anak khalifah. Kemudian tidak akan didapat oleh satupun di antara mereka. Kemudian muncullah panji-panji hitam dari arah timur. Mereka akan memerangi kalian yang belum pernah dilakukan oleh suatu kaum pun. Jika kalian melihatnya, maka berbaiatlah kalian walaupun harus merangkak di atas salju, sesungguhnya ia adalah khalifatullah al-Mahdi” (HR Ibnu Majah dan Hakim)
(Kalau melihat hadis di atas) jadi ini bukan berarti dari satu orang saja tapi dari berbagai khalifah. Kalau kita hitung ada tiga, berarti ada tiga pemimpin. Wallahua’lam

Apakah Demokrasi Permainan Yang Diciptakan Yahudi?

Kalau demokrasi ya muncul jelas di Barat untuk menghilangkan kekuasaan gereja. Dulu gereja yang berkuasa terhadap mandat raja lalu terjadi revolusi Perancis, yang antara lain ajaran yang dikembangkan adalah demokrasi bahwa kekuasaan dipilih oleh rakyat secara langsung.

Memang ada keterlibatan tokoh-tokoh Yahudi, tapi saat itu belum ada rencana untuk umat Islam. Sekarang mereka melihat adanya kesadaran di kalangan kaum muslimin. Lalu ada di antara kelompok-kelompok dakwah yang menempuh cara demokrasi seperti FIS di Al Jazair.

Yahudi tahu setelah umat Islam berhasil merebut suara 80%, militer mulai bertindak (terhadap FIS), bukan saja Yahudi saja, tetapi Barat yang bertindak. Jadi kalau mau menempuh cara demokrasi tidak akan berhasil. Kalau People power bisa, rakyat bisa merobohkan kekuasaan.

Dalam Arti People Power di Luar Cara Demokrasi?
Di luar cara demokrasi. Rakyat memboikot pemerintah. Pabrik-pabrik ditutup. Jadi pemboikotan total, ini bisa menyebabkan bobroknya pemerintah. Ini bisa berhasil tanpa harus melibatkan kekuatan senjata. 
Jadi Tidak Akan Bisa Khilafah Tegak Dengan Cara Demokrasi?
Tidak, Tidak akan bisa.

Lalu, Apa yang Mesti Kita Persiapkan Untuk Menyambut Kedatangan Al Mahdi?
Banyak hal yang harus dilakukan. Harus dari sekarang untuk membuat banyak rencana untuk masa depan. Sekarang dipersiapkan rancangan undang-undang tentang pendidikan, keuangan, ekonomi dan sebagainya. Harus ada planning yang jelas. Gerakan-gerakan Islam harus memiliki persiapan yang sempurna. Jangan menunggu masa depan baru berfikir apa yang harus kita lakukan.
Kita perlu persiapan yang matang dari sekarang. Umat juga harus dibiasakan hidup secara Islam dari sekarang. Walaupun belum terbentuk masyarakat Islam, apalagi pemerintahan Islam. Seperti anak-anak kita tidak boleh bergaul bebas. Dibentuk juga opini di masyakat bis harus dibagi dua antara laki-laki dan perempuan.

Ketika Imam Mahdi Datang, Ada Hadis Mengatakan Kita Harus Berbaiat Mesti Harus 
Merangkak di Atas Salju. Lalu Al Mahdi nanti akan menaklukan Jazirah Arabia, Persia, Roma (Pertanyaan dipotong)?

Kerajaan Saud sudah roboh sebelum datang al Mahdi. Kalau kita lihat sekarang berkembang perang di Timur Tengah, tidak menutup kemungkinan akan berdirinya pemerintahan Islam di Irak. Sudah ada yang berjuang disana. Nanti kalau Irak ditaklukan mudah menaklukan Kuwait, dan masuk ke Israel. Yaman juga mudah ditaklukan.

Jadi jazirah Arab sudah ditaklukan, karena Al Mahdi muncul dari Madinah dan mau dibaiat setelah wafatnya Khalifah. Jadi Madinah nanti muncul kembali sebagai pusat khilafah karena ada hadis yang mengatakan Islam akan kembali ke Madinah.

“Sesungguhnya iman akan kembali ke Madinah,sebagiamanaularakan kembali ke lubangnya.” (HR Bukhori Muslim)
berarti sebelum munculnya al Mahdi, Islam akan berkuasa di Jazirah Arab yang itu namanya Saudi Arabia dan sekitarnya.

Makanya al Mahdi akan melanjutkan pemerintahan Islam. Dia tidak mendirikan, karena yang mendirikan gerakan-gerakan Islam.
Read more ...

22 Mei 2011

Haram Sambut Hari Lahir Dengan Meniup Lilin Dan Menyanyi

Bolehkah menyambut hari jadi dengan meniup lilin dan bernyanyi....setengah orang cakap tak boleh...kalau tak, boleh ke kita tukarkan lagu "Allah selamatkan kamu"?
Jawapannya

Sebenarnya menyambut hari lahir ini tak salah, sebab Rasulullah setiap hari Isnin dia berpuasa untuk memperingati hari kelahirannya. Kemudian setiap tahun 12 Rabiulawal semua umat Islam menyambut hari kelahiran dan perjuangan Rasulullah untuk memartabatkan agama Islam.

Majlis menyambut hari kelahiran adalah baik kerana itu adalah caranya kita menginggati segala nikmat yang Allah berikan kepada kita dan ia merupakan salah satu cara kita bersyukur kerana Allah melahirkan kita di dunia ini dengan keadaan baik dan sihat.

Tapi kita kena ingat kalau majlis ini salah pengisiannya atau salah meraikannya dengan cara tidak mengikut apa yang ditetapkan oleh syarak seperti adanya tarian, menari, konsert, bercampur antara lelaki dan perempuan yang bukan mahramnya. Meninggalkan solat dan sebagainya. Maka ini jelas menjadi haram. Menjadi persoalan ramai umat Islam diluar sana bolehkah meraikan hari kelahiran dengan memasang lilin di atas kek dan menyanyikan lagu
“selamat hari jadi”?

Jawapannya, perkara ini datang bukan dari budaya Islam dan ia datang daripada budaya barat. Hadis Nabi Muhammad SAW yang membawa maksud :
“Barangsiapa menyerupai sesuatu kaum maka dia bukan dari golongan ku.”


Jelas di sini bahawa merayakan hari kelahiran dengan meniupkan lilin itu bukan dari Agama Islam, malah ia dipraktikkan oleh masyarakat Kristian setiap kali mereka menyambut hari kelahiran mereka. Barang siapa yang menyambutnya dengan cara memasang lilin di atas kek dan menyanyikan lagu hari lahir adalah haram sebab dia bukan dari budaya Islam. Cara Islam menyambut hari kelahiran adalah dengan melaksanakan kenduri kesyukuran, membaca doa dan menjemput semua kaum kerabat dan sahabat-sahabat yang berdekatan dengan tujuan untuk bersilaturahim antara satu sama lain.

Akhir kalam, masuklah kedalam Agama Islam dengan cara keseluruhannya bukan masuk yang mana sesuai kita ambil dan yang tidak sesuai dengan nafsu kita tinggalkan. Jadilah umat Islam yang taat kepada perintah Allah dan meninggalkan perkara yang mungkar dan syubhah, kerana ini lebih menjaminkan keselamatan kita di dunia dan di akhirat. Rayakanlah hari kelahiran sepertimana yang ditetapkan oleh syarak Islam, mudah-mudahan majlis yang dijalankan itu diberkati dan dirahmati oleh Allah.
Read more ...

Nikah tak hapus dosa berzina

Soalan:
 
SAHKAH wanita yang mengandung anak luar nikah berkahwin dengan lelaki yang bertanggungjawab atas kehamilan itu? Adakah anak itu tidak sah taraf dan perlukah mereka dinikahkan semula?


Jawapan

HUKUM pernikahan ketika mengandung tetap sah sekiranya cukup rukun dan syaratnya.

Paling utama adalah perempuan itu masih bujang iaitu belum pernah bersuami dan tidak dalam idah.

Perkahwinan yang sah tidak perlu diakad semula.

Bagaimanapun, kesalahan zina tidak terhapus dengan pernikahan terbabit.


Ada sesetengah pendapat ulama mengharamkan pernikahan perempuan yang mengandung anak zina dan menganggapnya tidak sah.


Ia bertujuan bagi menjaga keturunan anak supaya tidak bercampur-baur. Dengan kata lain, wanita itu perlu terlebih dulu melahirkan anak sebelum berkahwin.

Read more ...

19 Mei 2011

MEMPERLEKEH AGAMA LAIN

soalan :

Apakah hukum seseorang memperlekehkan agama orang lain. ?

Jawapan;

Kita wajib meyakini bahawa Islamlah satu-satunya agama yang benar dan direstui Allah untuk dianuti oleh sekelian manusia. Firman Allah (bermaksud); “Sesungguhnya agama (yang benar dan diredhai) di sisi Allah ialah Islam” (Ali Imran, ayat 19).

Agama-agama lain adalah batil dan palsu. Kerana itu Allah tidak menerimanya dan penganutnya akan menjadi manusia-manusia yang rugi di akhirat (kerana mereka akan dihumbankan ke dalam neraka); Firman Allah (bermaksud); “Dan sesiapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima daripadanya, dan ia pada hari akhirat kelak dari orang-orang yang rugi” (Ali Imran, ayat 85).

Merasakan dalam diri bahawa agama lain adalah lekeh dan hanya Islam sahaja yang hebat, itu adalah tanda iman dalam hati seorang mukmin. Perasaan itu wajib ada dalam hati setiap dari kita yang beriman kepada Allah dan agama Allah. Namun tidak semestinya kita perlu meluahkan perasaan itu di hadapan penganut-penganut agama lain. Dalam erti kata lain; kita memperlekehkan agama mereka di hadapan mereka. Sudah tentunya perbuatan kita itu akan mengundang balasan balik dari mereka terhadap agama kita dan juga terhadap Allah. Kerana itu, Allah melarang kita dalam ayatnya (bermaksud);

“Dan janganlah kamu mencerca berhala-berhala yang mereka sembah yang lain dari Allah, kerana mereka kelak akan mencerca Allah secara melampaui batas dengan ketiadaan pengetahuan”. (al-An’am, ayat 108).

Apa yang disuruh oleh Allah ialah kita berusaha mendekatkan orang-orang bukan Islam kepada agama Allah dengan hujjah dan perdebatan yang baik sebagaimana firman Allah;

“Dan janganlah kamu berbahas dengan ahli Kitab melainkan dengan cara yang lebih baik, kecuali orang-orang yang berbuat zalim dari mereka. Katakanlah (kepada mereka): ‘Kami beriman kepada (Al-Quran) Yang diturunkan kepada Kami dan kepada (Taurat dan Injil) Yang diturunkan kepada kamu; dan Tuhan kami, juga Tuhan kamu, adalah satu; dan kepadaNyalah, Kami patuh Dengan berserah diri’” (al-Ankabut, ayat 46).

Maksud berbahas dengan cara yang baik ialah menyeru mereka kepada agama Allah dengan membentangkan ayat-ayat Allah dan hujjah-hujjah. (Lihat; al-Jalalain). Allah mengecualikan dalam ayat di atas orang-orang kafir yang bertindak zalim terhadap agama Allah atau kaum muslimin, maka mereka perlu kita hadapi dengan tindakan yang bersesuaian dengan kebiadapan mereka.

Berkata Imam al-Hakim (mengulas ayat pertama tadi, iaitu ayat 108 dari surah al-An’am); “Kita dilarang mencerca berhala-berhala kerana dua sebab;


1. Berhala itu hanyalah makhluk yang tidak bernyawa dan tidak berdosa (yakni yang berdosa ialah penganutnya).


2. Cercaan terhadapnya akan membawa kepada kejahatan yang lebih besar iaitu celaan penganutnya terhadap Allah.


Beliau menegaskan; apa yang wajib kita lakukan ialah kita membentangkan kepada penganutnya bahawa berhala itu sendiri tidak redha ia disembah dan berhala itu tidak selayaknya disembah kerana ia tidak berupaya menimpakan mudaraat dan memberi manfaat kepada sesiapa kerana ia hanyalah batu yang tidak bernyawa. Pendekatan ini tidaklah dinamakan cercaan. Kerana itu Saidina ‘Ali –radhiyallahu ‘anhu- pernah berkata; “Janganlah mencerca mereka, akan tetapi sebutlah kejelekan/keburukan amalan-amalan mereka”. (Tafsir Mahasin at-Takwil)

Berkata Imam ar-Razi; Ayat tersebut merupakan satu pendidikan kepada orang yang ingin berdakwah kepada agama Allah, iaitulah mereka janganlah menyibukkan diri dengan tindakan yang tidak ada faedah dalam mencapai tujuan dakwah. Menyebutkan berhala sebagai makhluk kaku tidak bernyawa yang tidak berkuasa menimpakan mudarat dan tidak mampu mendatangkan manfaat sudah memadai untuk meragukan penganutnya tentang ketuhanan berhala itu. Tidak perlu untuk kita mencerca atau mencacinya. (Mahasin at-Takwil)

Kesimpulannya, merasakan Islam adalah agama yang hebat dan semua agama lain adalah lekeh merupakan perasaan yang wajib ada dalam setiap hati/jiwa orang Islam. Namun, ketika berhadapan dengan orang-orang bukan Islam, uslub dan pendekatan terbaik ialah dengan kita membentangkan hujah-hujah yang baik dan bernas untuk meyakinkan mereka kepada agama Allah dan kebenarannya, bukan dengan kita memperlekeh-lekeh agama mereka kerana akan mengundang mereka memperlekehkan pula agama kita. Kecualilah pada ketika kita berhadapan dengan orang-orang kafir yang terlebih dahulu mencerca dan menghina agama kita atau Nabi Muhammad atau mana-mana ajaran Islam, maka ketika itu kita perlu memberi reaksi yang bersesuaian dengan sikap atau tindakan mereka.

Wallahu a’lam.

Rujukan;

1. Tafsir Mahasin an-Takwil, Syeikh Jamaluddin al-Qasimi, surah al-An’am, ayat 108.
2. Tafsir al-Wasit, Syeikh Muhammad Sayyid Tantawi, ayat 46, surah al-Ankabut.
3. Al-Muqtataf min ‘Uyun at-Tafasir, Syeikh Mustafa al-Khairi, surah dan ayat yang sama.



Ulasan :
terkenang aku cerita hot di sebuah fan page di facebook...mereka(yg berkenaan saja serta Islam tulin)memperlekeh kan Agama ku sebagai seorang muaallaf =) - VL
Read more ...

18 Mei 2011

SANGGUL TINGGI

Soalan;

adakah memakai tudung dengan sanggul yang tinggi seperti wanita2 arab, adalah haram?

Jawapan;

Sanggul dalam keadaan biasa yang dibuat wanita untuk mengemaskan rambutnya untuk mengelak dari mengurai, tidaklah ada larangan Syarak terhadapnya asalkan ia tidak mendedahnya untuk tontonan orang ramai (selain suami, mahram dan sesama wanita) kerana rambut berada dalam kawasan aurat yang wajib ditutup. Adapun sanggul yang dibuat untuk tujuan fesyen dan untuk menunjuk-nunjuk kepada orang lain (yakni sekalipun berada di bawah tudung, tetapi menjadi tarikan kepada orang lain) dibimbangi wanita yang melakukannya tergolong dalam salah satu dari dua golongan ahli neraka yang disebut oleh Rasulullah –sallallahu ‘alaihi wasallam- dalam hadis di bawah;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Dua golongan dari ahli neraka yang aku belum melihat kedua-duanya iaitu;
1. Kaum yang membawa cambuk seperti ekor lembu untuk memukul manusia dengannya, dan;
2. Wanita-wanita yang berpakaian tetapi bertelanjang, yang cenderung kepada perbuatan maksiat dan mencederungkan orang lain kepadanya. Kepala-kepala mereka umpama bonggol-bonggol unta yang senget. Mereka ini tidak akan dapat memasuki syurga dan tidak akan mencium baunya di mana bau syurga dapat dicium dari jarak perjalanan sekian sekian jauh”.
(Riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-).[1]

Dalam hadis di atas, Nabi mendedahkan dua golongan dari umatnya yang perlakuan mereka belum nampak pada zaman baginda akan tetapi akan muncul pada zaman selepas baginda, iaitu;
a) Golongan pertama; golongan yang suka mendera dan memeras orang-orang bawahannya (termasuk pemerintah-pemerintah yang zalim) di mana mereka diumpamakan Nabi seperti seorang tuan yang memegang cambuk dan memukul hamba bawahannya.
b) Golongan kedua; wanita-wanita yang berpakaian tetapi bertelanjang (yakni tidak menutup aurat dengan sempurna) di mana mereka cenderung kepada maksiat dan melakukan tindakan-tindakan yang mendorong orang lain kepada maksiat.

Di dalam hadis di atas, bukan larangan sanggul yang dimaksudkan oleh Nabi apabila menyebutkan “kepala-kepala mereka umpama bonggol-bonggol unta…”, akan tetapi tujuan sanggul itu dibuat iaitulah untuk menarik perhatian orang lain kepada mereka di samping mereka mendedahkan sanggul itu untuk diperlihatkan kepada orang ramai. Ini dapat kita fahami dari keadaan mereka yang disifatkan Nabi dalam ungkapan sebelumnya “…berpakaian tetapi bertelanjang, yang cenderung kepada perbuatan maksiat dan mencederungkan orang lain kepada maksiat…”.

Menurut Imam an-Nawawi; maksud ungkapan Nabi “kepala-kepala mereka umpama bonggol-bonggol unta” ialah mereka membesarkan rambut di kepala mereka dengan melilitnya dengan kain serban atau kain-kain lilitan yang lain (Syarah Soheh Muslim). Jelaslah kepada kita bahawa yang dimaksudkan oleh Nabi dalam hadis di atas –berdasarkan tafsiran ulamak- ialah fesyen-fesyen yang dibuat pada rambut untuk tujuan menarik perhatian orang lain.

Wanita-wanita Islam wajib menjaga penampilan diri mereka agar jangan menimbulkan ghairah dan nafsu lelaki ajnabi walaupun dengan perbuatan yang hukum asalnya adalah harus. Sebagai contoh;

a) Suara wanita hukum asalnya tidaklah aurat (yakni harus diperdengarkan). Namun apabila suaru itu dimanja-manjakan (atau dialun-alunkan seperti nyanyian, nasyid dan sebagainya) maka ia menjadi aurat yang tidak boleh diperdengarkan kecuali kepada suami dan mahram sahaja. Firman Allah; “…janganlah kamu berkata-kata dengan lembut manja (semasa bercakap dengan lelaki asing) kerana yang demikian boleh menimbulkan keinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya (menaruh tujuan buruk kepada kamu), dan sebaliknya berkatalah dengan kata-kata yang baik (sesuai dan sopan)”. (al-Ahzab; 32)
b) Harus wanita memakai gelang kaki. Namun jika ia menghentak-hentakkan kakinya untuk memperdengarkan bunyi gelang kaki itu kepada orang lain (yang bukan suami dan mahramnya) atau ia memakai gelang kaki yang berloceng, maka hukumnya adalah haram sebagaimana larangan Allah dalam surah an-Nur (bermaksud); “Dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa yang tersembunyi dari perhiasan mereka”. (ayat 31). Larangan ini mungkin boleh dikiaskan kepadanya kasut-kasut tumit tinggi yang dipakai oleh wanita hari ini di mana apabila ia berjalan, bunyi tapak kasutnya akan menarik perhatian orang lain untuk berpaling kepadanya.

Kesimpulannya, sanggul pada asalnya tidaklah dilarang, namun jika dibuat dengan tujuan untuk memperlihatkan keaadan sanggul itu di khalayak ramai atau untuk menarik perhatian mereka, ia adalah dilarang berdasarkan ayat al-Quran dan hadis di atas.

Wallahu a’lam.

Rujukan;

1. Syarah Soheh Muslim, Imam an-Nawawi, juz. 14, bab an-Nisa’ al-Kasiyaat…
2. Fatawa wa Istisyaraat laman al-Islam al-Yaum (http://www.islamtoday.net), no. 16/158.
3. Al-Halal wa al-Haram, Dr. Yusuf al-Qaradhawi.

Nota hujung;

[1] Berkata Dr. Yusuf al-Qaradhawi; “Rasulullah s.a.w. melalui pandangan ghaibnya seolah-olah melihat kepada zaman ini, zaman di mana terdapat kedai-kedai atau salun-salun khas untuk menggubah rambut wanita, mencantikannya dan mempelbagaikan fesyen-fesyennya. Biasanya kedai-kedai atau salun-salun ini diselia oleh lelaki-lelaki yang melakukan kerja mereka bagi mendapat upah atau bayaran. Bukan sekadar itu, malah ramai wanita yang tidak memadai dengan rambutnya yang sedia ada yang dianugerahkan Allah, maka mereka membeli pula rambut-rambut palsu. Rambut palsu ini mereka sambungkan dengan rambut asal mereka untuk kelihatan lebih ikal, bersinar dan cantik, supaya dengan itu diri mereka menjadi lebih menarik dan menggoda…”. (al-Halal wa al-Haram, Dr. Yusuf al-Qaradhawi, halaman 84-85).
Read more ...

MAKNA MENDERHAKA IBU BAPA

Soalan;
 
1) Wajarkah seorang anak menegur ibu yang melakukan kesalahan? Adakah itu dianggap derhaka?
2) Sekiranya seorang ibu yang membuat salah itu memarahi anak nya kerana tidak menurut apa yang dikehendakinya dan anak nye membantah sehingga berlaku pertengkaran adakah itu derhaka?
3) Sekiranya anak tersebut seorang perempuan dan telah berkahwin, bagaimanakah dosa anak perempuan tersebut?  adakah di tanggung oleh suami?
4) Sekiranya si anak banyak terasa hati dengan tingkah laku ibu nya dan membawa diri jauh dari ibunya, adakah itu dikira derhaka?
Terima kasih ya ustaz.

Jawapan;

Menderhakai dua ibu bapa merupakan dosa besar dalam Islam, malah di antara dosa-dosa paling besar. Di dalam hadis, Rasulullah –sallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; “Dosa-dosa paling besar ada empat;
 
1.      Mensyirikkan Allah
2.      Membunuh manusia
3.      Menderhakai dua ibu bapa
4.      Memberi kesaksian palsu
(HR Imam al-Bukhari dari Anas –radhiyallahu ‘anhu-)

Namun kita perlu memahami dengan baik apa yang dimaksudkan menderhakai dua ibu-bapa kerana ibu-bapa tidaklah sama seperti Allah dan Rasul yang tidak boleh dicanggahi arahan dan keputusannya. Dua ibu-bapa adalah makhluk dan mereka tertakluk dengan hadis Nabi; “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam perkara maksiat kepada Khaliq (Tuhan pencipta iaitu Allah)”.

Menurut Imam Ibnu as-Solah; penderhakaan terhadap ibu-bapa yang diharamkan ialah semua jenis perbuatan yang menyebabkan dua ibu-bapa merasa sakit hati (perasaan kecewa) yang tidak sedikit terhadap anaknya, sedangkan perbuatan itu bukanlah dari perkara-perkara wajib (yang terpaksa dilakukan)” (Lihat; Syarah Soheh Muslim, Imam an-Nawawi, jil. 1, bab Bayan al-Kabair wa Akbariha). Berdasarkan pandangan Imam Ibnu as-Solah ini kita dapat simpulkan bahawa yang dikatakan penderhakaan ialah apabila si anak melakukan perbuatan yang sengaja untuk menyakiti dua ibu-bapanya. Adapun jika ibu-bapa merasa sakit hati atau kecewa terhadap perbuatan si anak yang wajib perbuatan itu ia lakukan kerana untuk memenuhi tuntutan agama, tidaklah ia dianggap penderhakaan yang diharamkan oleh agama yang tergolong dalam dosa-dosa besar oleh hadis tadi kerana mentaati Allah lebih utama dari mentaati dua ibu-bapa.

Maka apabila si anak menegur bapa atau ibunya kerana suatu maksiat yang mereka lakukan yang mesti ditegur, lalu bapa atau ibu merasa marah atau kecewa, tidaklah si anak itu dianggap durhaka di sini agama kerana menegur/mencegah maksiat adalah dituntut oleh agama. Begitu juga, jika ibu-bapa meminta/mengarahkan si anak agar melakukan perbuatan dosa, munkar atau maksiat, lalu si anak menolaknya dan ibu-bapa rasa marah, tersinggung atau kecewa, tidaklah si anak dikira durhaka kepada ibu-bapa di sisi agama.

Diceritakan di dalam hadis bahawa, Sa’ad bin Abi Waqqas –radhiyallahu ‘anhu- apabila ia memeluk Islam dan diketahui ibunya yang masih kafir, ibunya telah telah mengadakan mogok lapar. Ibunya berkata; “Bukankan Allah memerintahkan supaya kamu berbuat baik kepada ibumu? Demi Allah, aku tidak akan makan sebarang makanan dan tidak akan minum sebarang minuman hinggalah sama ada aku mati atau kamu kembali kafir”. Lalu turunlah ayat Allah (bermaksud); “…dan jika mereka berdua (yakni ibu-bapamu) mendesakmu supaya engkau mempersekutukanKu dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai pengetahuan mengenainya, maka janganlah engkau taat kepada mereka” (Surah al-‘Ankabut, ayat 8). (HR Imam at-Muslim, at-Tirmizi dan lain-lain. Lihat hadis ini dalam Tafsir Ibnu Kathir, surah al-‘Ankabut, ayat 8).

Dalam riwayat yang lain diceritakan; Saad berkata kepada ibunya tadi; “Wahai ibu, ketahuilah bahawa jika ibu dikurniakan 100 nyawa dan keluar nyawa itu satu demi satu dari ibu (kerana mogok lapar ibu itu), saya sekali-kali tidak akan meninggalkan agama ini kerana suatu tukaran pun. Jika ibu mahu, ibu makanlah. Jika tidak mahu, tak usahlah makan”. Akhirnya ibunya putus asa dan makan. (HR Imam at-Thabrani. Lihat hadis ini dalam Tafsir Ibnu Kathir).

Walau bagaimanapun, dalam menegur kedua ibu-bapa, si anak hendaklah beradap dan menggunakan bahasa yang elok. Tidak harus menengking atau bertengkar dengan ibu-bapa. Kewajipan si anak ialah memberikan teguran. Jika teguran tidak dindahkan, bukanlah lagi tanggungjawab si anak untuk memaksa mereka. Berdoalah kepada Allah agar Allah memberi hidayah kepada mereka. Begitu juga, tidak harus memulau ibu-bapa semata-mata kerana bercanggah pandangan dengan kita. Perhatikan firman Allah dalam surah Luqman (yang bermaksud);

“Dan jika mereka berdua mendesakmu supaya engkau mempersekutukan denganKu sesuatu yang engkau tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, maka janganlah engkau taat kepada mereka dan bergaullah dengan mereka di dunia dengan cara yang baik…” (Surah Luqman, ayat 15)

Perhatikan dalam ayat di atas; Allah melarang kita dari memenuhi desakan ibu-bapa kepada kekufuran (mensyirikkan Allah), namun dalam pada itu Allah tetap memerintahkan agar kita bergaul dengan mereka di dunia secara baik. Berkata Imam al-Qurthubi –mengulas ayat di atas-; “Ayat ini menjadi dalil kepada tuntutan supaya mengikat hubungan dengan dua ibu-bapa yang kafir termasuk menafkahi mereka –mengikut yang terdaya- jika mereka miskin, bercakap lembut dengan mereka dan mengajak mereka kepada Islam dengan bahasa yang manis” (Tafsir al-Qurthubi, surah Luqman, ayat 15). Diceritakan dalam hadis bahawa Asma’ binti Abu Bakar, tatkala datang kepadanya ibunya yang masih kafir (musyrik) untuk mengikat hubungan, ia (yakni Asma’) bertanya Nabi; “Ya Rasulullah, perlukah aku mengikat hubungan dengan ibuku itu?”. Nabi menjawab; “Ikatlah hubungan dengannya”. (HR Imam al-Bukhari dan Muslim)
Jika terhadap ibu yang kafir kita masih disuruh agar berbuat baik dan tidak memutuskan hubungan, maka apatahlagi dengan ibu yang telah Islam, cuma tidak solehah sahaja. Kita wajib terus menjalinkan ikatan/hubungan dengannya dan pada masa yang sama kita membetulkannya sedikit demi sedikit dengan penuh hikmah. Kita melihat sikap Nabi sendiri, walaupun bapa saudaranya (Abu Thalib) tidak menerima Islam, Nabi terus berhubungan dengannya dan tidak pernah berputus asa mendakwahinya hingga akhir hayatnya (Abu Thalib).

Wallahu a’lam.
Read more ...

PENAFIAN SEBAGAI ISTERI DAN UCAPAN SUAMI "DIA BUKAN ISTERIKU"

Soalan;

Assalamualaikum Ustaz. Saya ada satu kemusykilan berkenaan situasi yang mungkin kerap berlaku dalam masyarakat kita. Situasinya begini....Seorang suami mempunyai 2 orang isteri secara rahsia iaitu Puan A dan Puan B. Walaubagaimanapun, tembelang si suami pada suatu hari terbongkar apabila Puan A terserempak si suami ini bersama Puan B. Walaubagaimanapun apabila disoal, si suami menafikan bahawa Puan B ini adalah isterinya. Soalannya, adakah jatuh talak pada Puan B tersebut apabila si suami tidak mengaku bahawa Puan B adalah isterinya di hadapan Puan A?

Jawapan;

Penafian suami tentang status seorang wanita sebagai isterinya atau ucapannya "Dia bukan isteriku" bergantung kepada niat suami kerana ia termasuk dalam lafaz kinayah talak (yakni lafaz yang boleh difahami dengan maksud talak dan bukan talak), bukan termasuk dalam lafaz sarieh (yakni lafaz yang tidak difahami melainkan dengan maksud talak, iaitu lafaz cerai atau lafaz talak itu sendiri). Jika suami bermaksudkan talak/cerai dengan penafian atau ucapan tersebut, jatuhlah talak. Jika tidak berniat talak, tidaklah jatuh talak.

Wallahu a'lam.
Read more ...

MEMOHON MAAF KERANA MELAKUKAN ZINA

Soalan;

Sekiranya seorang lelaki yang sudah berkahwin berzina dengan isteri orang atau sebaliknya(isteri berzina dengan lelaki yg sudah berkahwin) dan sekarang beliau telah insaf dan melakukan taubat nasuha, adakah lelaki itu wajib meminta maaf kepada suami wanita tersebut?

Jawapan;

Zina adalah dosa yang amat besar di dalam Islam apatahlagi jika dilakukan dengan wanita yang telah bersuami. Perbuatan tersebut menganiayai si suami terbabit, menjatuhkan air mukanya dan menghancur-luluhkan hatinya jika ia mengetahuinya. Berkata Imam Ibnu Hajar; "Zina ada beberapa martabat. Berzina dengan wanita ajnabi yang tak bersuami sudah dikira dosa besar. Lebih besar lagi dosa jika dilakukan dengan wanita ajnabi yang besuami. Lebih besar dari itu apabila seorang berzina dengan mahramnya sendiri. Perbuatan zina seorang yang pernah berkahwin lebih keji dari orang belum pernah berkahwin berdalilkan hukuman had yang berbeza antara keduanya (yakni hukuman had yang dikenakan ke atas penzina yang pernah berkahwin lebih berat iaitu direjam sampai mati, berbanding yang belum berkahwin hukumannya disebat 100 rotan). Zina oleh orang tua lebih keji dari zina oleh orang muda kerana akalnya lebih sempurna. Zina oleh orang merdeka dan orang alim lebih keji dari zina yang dilakukan oleh hamba dan orang jahil" (az-Zawajir 'An Iqtiraf al-Kabair).

Orang yang terlanjur melakukan zina hendaklah segera bertaubat kepada Allah dengan taubat nasuha iaitu dengan memenuhi semua syarat-syarat taubat iaitu;

1. Meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukan sepenuhnya
2. Menyesal sesungguh hati atas ketelanjuran melakukannya
3. Berazam dengan keazaman yang bulat/penuh tidak akan mengulagi lagi dosa dan maksiat tersebut.
Di samping ia hendaklah memperbanyakkan amal-amal soleh dan kebajikan kerana amal-amal yang baik akan menutup kejahatan-kejahatan yang lalu. Firman Allah (bermaksud); "Dan sesiapa yang bertaubat serta beramal soleh, maka sesungguhnya (dengan itu) ia bertaubat kepada Tuhannya dengan sebenar-benar taubat" (Surah al-Furqan, ayat 71).

Perlukah ia memberitahu perbuatan zinanya kepada orang lain (termasuk suami wanita yang dizinainya) sebagai tanda taubat dan penyesalan? Jawapannya; memadai dengan kita melakukan apa yang disuruh oleh Syariat sebagai tanda taubat kita iaitu dengan melaksanakan rukun-rukun taubat nasuha tadi. Syariat tidaklah mensyaratkan orang berzina mesti mengisytiharkan perbuatan zinanya sebagai syarat sah taubatnya. Malah terdapat hadis dari Nabi memerintahkan supaya kita tidak menghebahkan dosa yang kita lakukan, sebaliknya kita mengekalkannya menjadi rahsia antara kita dan Allah setelah kita memohon ampun dariNya. Sabda Nabi (bermaksud); "Setiap umatku akan diampunkan Allah dosanya kecuali orang-orang yang menzahirkan (dosa/maksiatnya). Di antara penzahiran ialah; seorang lelaki melakukan satu perbuatan dosa di malam hari dan Allah telah menutupnya dari diketahui orang lain. Namun apabila ia bangun pagi, ia menceritakan kepada orang lain; 'Wahai fulan, aku telah melakukan perbuatan sekian sekian semalam'. Allah menutupinya di malam hari, namun di pagi hari dia sendiri yang mendedahkan tutupan Allah ke atasnya" (HR Imam al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah). Baginda juga bersabda; "Allah tidak menutupi seseorang hamba di dunia melainkan Ia akan menutupinya di akhirat" (HR Imam al-Bukhari dan Muslim).

Mengulas hadis tersebut, Imam an-Nawawi menegaskan; Adalah makruh orang yang terlanjur melakukan maksiat memberitahu perbuatan maksiatnya kepada orang lain, akan tetapi hendaklah ia meninggalkan maksiat, menyesalinya dan berazam tidak akan kembali melakukannya. Melainkan jika ada suatu maslahah untuk ia memberitahunya seperti memberitahu guru atau syeikhnya untuk mencari jalan keluar dari maksiatnya, atau untuk selamat dari terjebak dalam maksiat yang sepertinya, atau untuk mengetahui punca ia terjebak dalam maksiat tersebut atau supaya gurunya mendoakan untuknya, maka tidaklah makruh ia memberitahunya. Berkata Imam al-Ghazali; pendedahan yang dicela ialah jika dilakukan dengan tujuan sengaja ingin menzahir atau menceritakan dosa atau maksiat yang dilakukan atau untuk mempermain-mainkan. Adapun dengan tujuan bertanya soalan atau meminta fatwa tidaklah dicela berdalilkan hadis yang menceritakan; seorang lelaki yang terlanjur bersetubuh dengan isterinya pada siang hari di bulan Ramadhan, lalu ia datang kepada Nabi dan menceritakan apa yang berlaku dan Nabi tidak menegah perbuatannya. (Faidhul-Qadier, hadis no. 6279)

Merujuk kepada soalan saudara, tidak perlulah orang terlibat mendedahkan perbuatan zinanya kepada si suami semata-mata untuk memohon maaf darinya. Hendaklah ia menyesali perbuatannya, memohon ampun kepada Allah dengan sesungguh hati, membanyakkan amal-amal soleh dan mendoakan kesejahteraan orang yang teraniayai dengan kerana perbuatan maksiatnya itu.

Wallahu a'lam.

Rujukan;

1. Laman Fatwa Syeikh Muhammad Soleh al-Munajjid (Islamqa.com), fatwa no. 95024, 47924.
2. Faidhul-Qadier Syarh al-Jami as-Saghier, Imam an-Munawi, hadis no. 6279
Read more ...

MENYENTUH NAJIS KERING, SOLAT MUSAFIR & SUAMI MENGABAIKAN ISTERI

Soalan;

1. Jika tangan kita kering dan memegang kain kencing yang juga kering, adakah batal wuduk?
2. Jika kita musafir, bolehkah kita buat solat jamak dan qasar jika terlalu sibuk, dan memilih untuk solat biasa jika tidak sibuk?
3. Suami yang hanya mementingkan ibu dan mengabaikan isteri dan anak, katanya tidak mahu menjadi anak derhaka.
Terima kasih.

Jawapan;

1. Masalah pertama tiada kaitan dengan wudhuk. Ia berkait dengan akan menajisi tangan atau tidak? Jawapannya; jika anggota yang menyentuh dan najis yang disentuh, kedua-duanya kering, anggota yang menyentuh najis itu tidaklah dianggap terkena najis kecuali jika tidak nampak apa-apa kesan najis padanya. Jadi, tidak perlulah anggota itu dibasuh sebelum kita menunaikan solat atau melakukan sebarang ibadah yang lain yang mensyaratkan wajib bersuci. Adapun wudhuk, wudhuk tidak batal semata-mata badan bernajis. Bila badan terkena najis, cukup dengan kita mencucinya sahaja tanpa perlu mengulangi ambil wudhuk.

2. Selagi ada sebab yang mengharuskan untuk solat jamak dan qasar, haruslah untuk kita menjamak dan mengqasarkan solat. Menurut mazhab Syafiie, sebabnya ada dua;
A) Safar (perjalanan yang mencukupi 2 marhalah, iaitu kira-kira 90 KM)
B) Hujan (untuk jamak taqdim sahaja)
Adapun mengikut sebahagian ulamak; ada 3 sebab; dua di atas dan ditambah satu lagi;
(C) Kesibukan dan kesulitan (termasuk sakit).

Sama ada solat jamak dan qasar itu dilakukan berterusan atau pada waktu-waktu tertentu, itu tidak menjejaskan rukhsah (kelonggaran) yang diberikan Syariat itu selama sebab yang mengharuskannya masih ada iaitu safar, hujan atau kesibukan/kesulitan (mengikut sebahagian ulamak). Terdapat hadis dari Saidatina 'Aisyah yang menceritakan; "Aku keluar bersama Rasulullah semasa Umrah Ramadhan di mana ada hari aku berbuka (yakni tidak berpuasa) dan ada hari aku berpuasa. Ada ketika aku mengqasarkan solat dan ada ketika aku menyempurnakannya (yakni tidak mengqasarnya). Apabila aku menceritakan kepada Rasulullah apa yang aku lakukan itu, baginda berkata; "Apa yang kamu lakukan itu adakah baik, wahai Aisyah" (HR an-Nasai, ad-Daruqutni dan al-Baihaqi dengan sanad yang baik. Lihat hadis ini dalam; al-Majmu', Imam an-Nawawi, juzuk 4, kitab as-Solah, bab Solat as-Safar dan Nailul-Autar, Imam as-Syaukani, juz 3, kitab as-Solah, Abwab Solat al-Musafir).

3. Ketaatan/kebaikan kepada ibu-bapa dan tanggungjawab sebagai ketua keluarga adalah dua kewajipan yang berbeza yang mesti dilaksanakan kedua-duanya sebagaimana kewajipan solat, puasa, zakat dan sebagainya. Tidak harus melakukan satu dan meninggalkan yang satu lagi. Suami yang berbuat baik kepada ibu bapa tetapi pada masa yang sama ia mengabaikan tanggungjawab kepada keluarga (isteri dan anak-anak) ia berdosa kerana mengabaikan kewajipan Syarak walaupun pada masa yang sama ia mungkin mendapat pahala kerana kebaikan kepada ibu bapanya. Begitu juga jika ia melakukan sebaliknya (yakni menunaikan tanggungjaeab kepada keluarga, namun menderhaka kepada ibu-bapa). Oleh itu, suami mestilah berusaha melaksanakan dua kewajipan yang tertanggung atas bahunya itu dengan sebaik mungkin secara saksama.

Wallahu alam.
Read more ...

ISTERI PERLU PATUH SUAMI ATAU IBU BAPA?

Soalan;

Jika seorang anak perempuan yang telah berkahwin dan suami anak perempuan tadi tidak mempunyai hubungan yang baik dengan keluarga anak perempuan tadi ( mertuanya ), dan sekiranya keluarga si isteri ini tadi ingin mengadakan majlis untuk anak perempuannya tetapi suami bagi anak perempuan ini melarang isterinya dari menghadiri majlis tersebut dan kesannya sekiranya si isteri ini tidak menghadiri majlis tersebut maka akan mengaibkan ibubapanya dan sekiranya dia hadir ke majlis yang di adakan oleh ibubapanya maka adakah hukumnya nusyuz, kerana melanggar perintah suami? apa pula hukumnya ke atas anak perempuan tadi sekiranya tidak hadir dan melukakan hati ibu bapanya? harap dapat di perjelaskan. sekian terima kasih.

Jawapan;

Bagi seorang wanita yang telah berkahwin, suami dan ibu-bapa adalah dua insan paling utama dalam hidupnya. Kedua-dua mereka wajib ditaati, dihormati dan dijaga hubungan dan pertalian dengan mereka. Namun apabila berlaku pertembungan antara arahan suami dan arahan ibu-bapa (atau keluarga), ketaatan kepada suami adalah lebih utama dari ketaatan kepada dua ibu-bapa. Ini berdasarkan hadis dari Aisyah yang menceritakan; Aku bertanya Rasulullah; "Siapakah yang paling besar haknya ke atas seorang perempuan?". Jawab Nabi; "Suaminya". Aku bertanya lagi; "Siapakah yang paling besar haknya ke atas seorang lelaki?". Jawab Nabi; "Ibunya". (HR al-Hakim dan beliau mensahihkannya dan al-Bazzar dengan sanad yang baik).

Walau bagaimanapun, hendaklah arahan suami bukan dalam bentuk yang memudaratkan ibu-bapa si isteri seperti arahan supaya isteri tidak menziarahi ibu-bapanya secara sepenuhnya, arahan supaya isteri tidak memberi belanja kepada ibu-bapanya yang miskin (sedangkan dia mampu), arahan jangan menziarahi/menjaga ibu-bapa yang uzur/sakit (sedang tiada orang lain dapat menggantinya) dan yang seumpamanya. Arahan-arahan tersebut bertentangan dengan arahan Allah yang memerintahkan supaya anak (sama ada lelaki atau perempuan) berbakti/berterima kasih kepada ibu-bapanya dan melayani mereka dengan baik. Firman Allah (bermaksud);

"Berterima kasihlah kepadaKu dan kepada dua ibu-bapamu..." (Surah Luqman, ayat 14).

"Sembahlah Allah dan jangan mensyirikan sesuatu denganNya, dan berbuat baiklah kepada dua ibu-bapa" (an-Nisa', ayat 36).

"Dan Tuhanmu telah perintahkan supaya engkau tidak menyembah melainkan kepadaNya dan hendaklah kamu berbuat baik kepada dua ibu-bapa" (Surah al-Isra', ayat 23)

"Dan bergaullah dengan mereka berdua di dunia dengan cara yang baik" (Surah Luqman, ayat 15).

Arahan manusia -termasuk suami- hanya harus ditaati jika tidak melanggari perintah Allah. Arahan agar memutuskan silaturrahim dengan ibu-bapa dan mengabaikan mereka jelas bertentangan dengan perintah Allah, kerana itu tidak wajib dipatuhi. Arahan tersebut jika ditolak/diengkari oleh isteri tidaklah menyebabkan ia menjadi nusyuz.

Imam as-Shan'ani ketika mengulas hadis tadi (yakni hadis yang menegaskan ketaatan kepada suami lebih diutamakan dari ketaatan kepada ibu-bapa) beliau berkata; hadis tersebut adalah khusus jika tidak menimbulkan mudarat kepada dua ibu-bapa. Jika tidak, maka hak ibu-bapa adalah diutamakan ke atas hak suami bagi menselarikan antara hadis-hadis berkaitan" (Subulus-Salam, jilid 2, kitab al-Jami', bab al-Birr wa as-Silah).

Apa yang kita kemukakan di atas merupakan pandangan jumhur ulamak (yang terdiri dari mazhab Hanafi dan Maliki) iaitu; tidak harus suami menghalang isteri dari menziarahi ibu/bapanya terutamanya pada saat-saat mereka memerlukan bantuan dan perhatian anak mereka. Jika isteri membantah larangan suami seperti itu, tidaklah ia berdosa atau dan menjadi isteri yang nusyuz.

Tidak dinafikan di sana segolongan ulamak (antaranya mazhab Syafiie) yang berpandangan; suami mempunyai hak untuk menghalang isteri keluar dari rumah sekalipun untuk menziarahi dua ibu-bapanya, melawat mereka ketika sakit, malah untuk menziarahi jenazah mereka. Isteri wajib mentaati arahan tersebut walaupun dari sudut hukum arahan sebegitu adalah berdosa jika suami tidak mempunyai sebab yang munasabah untuk bertindak demikian. Mereka berdalilkan hadis dari Anas yang menceritakan; Seorang lelaki keluar bermusafir dan ia menegah isterinya keluar rumah. Ditakdirkan Allah bapa isterinya sakit, lalu ia mohon dari Rasulullah untuk keluar menziarahi bapanya. Baginda berkata; "Bertakwalah kamu kepada Allah dan janganlah menyanggahi perintah suami kamu". Lalu Allah memberi wahyu kepada Rasulullah bahawa bapa wanita itu telah diampunakan Allah dengan kerana ketaatannya kepada suaminya. (HR Imam at-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Ausat). Namun menurut ulamak-ulamak hadis; sanad hadis ini adalah dhaif dan tidak harus dijadikan hujjah apatah lagi bagi perkara yang bersalahan dengan kehendak al-Quran tadi. Oleh itu, pandangan yang rajih ialah yang pertama tadi.

Merujuk kepada masalah yang dikemukakan dalam soalan di atas, keadaan tidaklah terlalu mendesak untuk si isteri pulang ke rumah ibu/bapanya. Ia sekadar kenduri sahaja. Oleh itu, bagi kes tersebut isteri tetap wajib menurut kehendak suami. Berusahalah memujuk suami supaya memberi keizinan. Jika ia tetap berdegil tidak mahu mengizinkan, tidak ada jalan lain melainkan taat dan patuh kepada arahan suami untuk mengelak dari menjadi isteri yang nusyuz. Mengenai hajat ibu-bapa, tidaklah berdosa menolaknya dalam kes ini kerana bagi wanita yang telah bersuami, menjaga hak suami lebih utama dari hak ibu-bapa sebagaimana ditegaskan oleh Nabi dalam hadis di awal tadi. Ia boleh menghubungi mereka -melalui telefon atau sebagainya- untuk memohon maaf dan menjelaskan situasi yang berlaku. Permohonan maaf itu juga termasuk dalam berbuat baik kepada ibu-bapa mengikut yang terdaya dilakukan.

Wallahu a'lam.

Rujukan;

1. Al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, juz 23, hlm. 56.
2. az-Zawaaj, Dr. Muhammad Ibrahim al-Hafnawi, hlm. 285-290.
3.Subulus-Salam, jilid 2, kitab al-Jami', bab al-Birr wa as-Silah).
Read more ...

NAFKAH ISTERI DAN IBU-BAPA; MANA YANG DIDAHULUKAN?

Soalan;

1. Apakah hukum suami yg selalu mengabaikan nafkah anak isteri kerana mengutamakan keluarganya di kg? - Suami bukanlah anak lelaki sulung @ anak lelaki tunggal.
2. Bolehkah keluarga di kg terutama ibu & ayah meminta duit (terlalu kerap) dari anak lelakinya padahal anak lelakinya jg perlu bertanggungjawab pada anak isteri? - Ayahnya masih berkerja tetap selalu mengalami masalah kewangan.

Jawapan;

1. Dalam pemberian nafkah, seorang suami hendaklah mendahulukan isteri dan anak-anak dari orang lain (termasuk ibu-bapa). Urutan nafkah adalah seperti berikut;

a) Diri sendiri
b) Isteri
c) Anak
d) Bapa
e) Ibu
f) Cucu
g) Datuk
h) Saudara
i) Ahli-ahli keluarga berikutnya.

Urutan ini adalah berdasarkan hadis Rasulullah s.a.w. yang menegaskan; “Mulailah dengan diri kamu, bersedekahlah kepada diri kamu. Jika ada lebihan, maka untuk isteri kamu. Jika ada lebihan, maka untuk ahli keluarga kamu. Jika ada lebihan lagi, maka untuk begini dan begini; yakni untuk orang di hadapan kamu, di kanan dan kiri kamu” (Riwayat Imam Muslim dan an-Nasai dari Jabir r.a.. al-Jami’ as-Saghier, hadis no. 46). Berkata Imam an-Nawawi mengulas hadis ini; di antara kesimpulan dari hadis ini ialah; hendaklah pemberian nafkah dimulakan mengikut tertib yang tersebut (dalam hadis). (Syarah Soheh Muslim, juz 7, Kitab az-Zakah, bab al-Ibtida’ Fi an-Nafaqah Bin-Nafsi Tsumma Ahlihi Tsumma al-Qarabah).

Perlu disebut juga di sini bahawa nafkah untuk isteri wajib diberikan oleh suami sekalipun isteri kaya dan berada. Suami yang gagal memberi nafkah sewajarnya kepada isterinya -mengikut kemampuannya- ia dianggap berhutang dengan isterinya kecualilah jika isteri menggugurkan haknya dengan kerelaannya sendiri. Begitu juga, isteri boleh menuntut fasakh di atas kegagalan suaminya memberi nafkah.

Adapun nafkah kepada orang lain selain isteri, ia tidak wajib melainkan apabila memenuhi dua syarat;

a) Mereka adalah miskin, tidak memiliki harta dan tidak mempunyai sumber pendapatan. Jika mereka mempunyai harta atau memiliki sumber pendapatan sendiri, tidaklah wajib lagi ia menyara mereka. Namun digalakkan ia meneruskan pemberiannya kepada mereka untuk mengekal kasih sayang dan silaturrahim.

b) Ia mempunyai kemampuan untuk menanggung mereka; sama ada dengan hartanya atau dengan sumber pendapatannya. Kemampuan ini merangkumi kos saraan untuk diri sendiri dan isteri. Jika ada lebihan (setelah ditolak keperluan diri dan isteri), barulah ia wajib menyara ahli-ahli keluarga yang lain.

Merujuk kepada soalan di atas, tidak harus suami mengabaikan nafkah kepada isteri dan anak-anak dengan alasan ingin membantu ibu-bapa di kampung kerana menafkahi isteri dan anak-anak adalah wajib. Jika benar ibu-bapa memerlukan nafkah darinya, ia hendaklah menafkahi mereka tanpa mengabaikan isteri dan anak-anak. Itupun jika ia mampu menampung semua mereka. Jika tidak, hendaklah ia mendahulukan isteri dan anak-anak.

Wallahu a’lam.

Rujukan;

1. Syarah Soheh Muslim, Imam an-Nawawi.
2. Manar as-Sabil, Ibnu Dhuyan.
Read more ...

HUKUM BERCUMBUAN TANPA ZINA

Soalan;

apakah hukum seorang lelaki dan perempuan yang bukan muhrim bersentuhan dan bercumbuan pada pertama kali tanpa melakukan zina? adakah dosa keterlanjuran ini sangat berat walaupun tidak berlaku zina? apakah Allah akan mengampunkan dosanya sekiranya mereka ini telah insaf dan tidak mengulangi perbuatan ini untuk kali kedua??

Jawapan;

Perbuatan tersebut sekalipun belum berzina tetapi ia telah membabitkan pelbagai dosa dan kesalahan yang ditegah Syariat, iaitu;

1. Ia menghampiri zina. Firman Allah (bermaksud); “Dan janganlah kamu menghampiri zina” (Surah al-Isra’, ayat 32). Berkata Imam Ibnu Kathir; “Dengan ayat ini Allah menegah hamba-hambaNya dari zina, dari menghampirinya dan dari terlibat dengan segala sebab dan pendorong kepada zina” (Lihat; Tafsir Ibnu Kathir).

2. Berdua-dua antara lelaki dan wanita bukan mahram. Sabda Nabi; “Tidak bersunyian (berdua-duaan) seorang lelaki dan seorang wanita melainkan syaitan akan menjadi yang ketiga antara mereka” (Sunan at-Tirmizi).

3. Menyentuh bukan mahram. Sabda Nabi; “Jika kepala seseorang dari kamu ditusuk dengan jarum dari besi, itu lebih baik baginya dari ia menyentuh seorang wanita yang tidak halal untuknya” (Riwayat Imam at-Thabrani dan al-Baihaqi. Berkata al-Haithami; para perawi hadis ini adalah perawi hadis soheh. Berkata al-Munziri; para perawinya adalah tsiqah Lihat; Faidhal-Qadier, hadis no. 7216). Jika menyentuh sudah begitu hebat ancamannya, bagaimana dengan saling bersentuhan dan bercumbuan.

4. Membuka aurat kepada bukan mahram. Firman Allah (bermaksud); “Dan janganlah mereka (perempuan-perempuan beriman) memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali kepada suami mereka, bapa mereka, bapa mertua mereka, anak-anak lelaki mereka…” (Surah an-Nur, ayat 31). Di dalam hadis, Rasulullah bersabda kepada orang lelaki; “Jagalah aurat kamu kecuali kepada isteri kamu atau hamba perempuan yang kamu miliki” (HR Imam Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, an-Nasai dan at-Tirmizi. Menurut Imam at-Tirmizi; hadis ini hasan. Lihat hadis ini dalam al-Jami’ as-Saghier, hadis no. 264)

5. Tidak menjaga pandangan mata. Firman Allah; “Katakanlah (wahai Muhammad) kepada orang-orang lelaki beriman supaya mereka menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram) dan memelihara kemaluan mereka…. Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kemaluan mereka” (Surah an-Nur, ayat 30-31).

6. Melepaskan nafsu seks mengikut jalan yang haram. Di dalam al-Quran Allah menyebutkan di antara sifat orang beriman ialah; “Mereka yang menjaga kemaluan mereka, kecuali kepada isteri mereka atau hamba sahaya mereka, maka sesungguhnya mereka tidaklah tercela. Maka sesiapa yang mengingini selain dari yang demikian itu, maka mereka adalah orang-orang yang melampaui batas” (Surah al-Mukminun, ayat 5-7). Perhatikan Allah menegaskan “sesiapa mengingini selain dari yang demikian itu” (yakni mencari jalan untuk melepaskan nafsu selain kepada isteri dan hamba sahaya) mereka adalah orang yang melampau batas. Dengan ayat ini Imam as-Syafiie menegaskan; Haram mengeluarkan mani dengan tangan (yakni melakukan onani) kerana ia termasuk melepaskan nafsu bukan kepada isteri atau hamba sahaya (Lihat; Tafsir Ibnu Kathir). Jika melepaskan nafsu secara sendirian sudah dianggap haram, apatahlagi jika membabitkan pasangan yang bukan mahram, maka lebih-lebih lagilah haram.

Orang yang melakukan perbuatan sedemikian wajiblah ia segera bertaubat kepada Allah. Pintu taubat sentiasa dibuka oleh Allah dengan syarat ia benar-benar bertaubat nasuha iaitu dengan melaksanakan rukun-rukun taubat berikut;

1. Meninggalkan maksiat tersebut sepenuhnya.
2. Menyesali ketelanjuran lalu dengan sesungguh hati.
3. Bertekad tidak akan mengulangi lagi.

Sebagai bukti kejujuran taubatnya, ia hendaklah mengubah hidupnya dari suasana maksiat kepada suasana taat (menjaga ibadah terutamanya solat, menjauhi pergaulan luar batasan antara lelaki dan wanita, bergaul dengan orang-orang soleh, mendampingi masjid dan majlis ilmu, menanamkan rasa takut kepada Allah dan balasan di akhirat). Hanya dengan berada dalam suasana ketaatan sahaja kita dapat memelihara diri dari terjerumus ke dalam maksiat. Di dalam hadis, Rasulullah bersabda; "Seseorang manusia itu berada di atas agama teman rapatnya. Maka hendaklah setiap dari kamu memerhati dengan siapa ia berteman" (HR Imam at-Tirmizi dan Abu Daud dari Abu Hurairah. Menurut as-Suyuti; hadis ini hasan. Lihat; al-Jami' as-Saghier, hadis no. 4516)

Wallahu a'lam.
Read more ...

KADAR NAFKAH SUAMI KEPADA ISTERI

Soalan;

Apakah maksud terperinci nafkah suami kepada isterinya? Adakah kerana dia telah membeli barangan keperluan seperti makanan sudah cukup dinamakan nafkah? Adakah salah jika isteri meminta wang kepada suaminya untuk dirinya sendiri sedangkan suaminya tidak pernah memberi wang,asalannya dia telah membeli barangan keperluan semua. Adakah wajib suami memberi keluarga mertua sedikit sumbangan seperti wang ringgit atau sebagainya?Dan apakah hukumnya jikalau keperluan yang dibeli oleh si suami menjadi ungkitannya semula.Disini saya terlalu musykil, harap dapatlah memberi penjelasan.

\
Jawapan;

Wajib suami memberi nafkah[1] kepada isteri mengikut kemampuannya dan juga dengan meraikan keperluan isteri. Firman Allah (bermaksud); "Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya; dan sesiapa yang disempitkan rezekinya, maka hendaklah ia memberi nafkah dari apa yang diberikan Allah kepadanya (sekadar yang mampu); Allah tidak memberati seseorang melainkan (sekadar kemampuan) yang diberikan Allah kepadanya. (Orang-orang yang dalam kesempitan hendaklah ingat bahawa) Allah akan memberikan kesenangan sesudah berlakunya kesusahan" (Surah at-Thalaq, ayat 7).

Di dalam hadis yang menceritakan Hindun (isteri Abu Sufyan) yang mengadu kepada Rasulullah tentang suaminya (Abu Sufyan) yang kedekut (tidak memberi belanja yang mencukupi untuk isteri dan anaknya), Rasulullah berkata kepada Hindun; "Kamu ambillah dari hartanya kadar yang mencukupi untuk kamu dan anak kamu mengikut kebiasaannya"[2] (HR al-Jamaah kecuali Imam at-Tirmizi. Lihat hadis ini dalam Nailul-Autar, Kitab an-Nafaqaat, bab al-Mar,ah Tunfiqu Min Mali az-Zauji min Ghair 'ilmihi...). Hadis ini menunjukkan bahawa keperluan isteri juga diambil kira dalam kewajipan memberi nafkah kerana Nabi menyebutkan "ambillah kadar yang mencukupi". Kecualilah jika suami miskin, maka ia dituntut memberi nafkah mengikut kemampuannya dan isteri hendaklah redha dengan keadaan suami dan berpada dengan apa yang diberikan.

Ada ulamak menetapkan kadar tetap harian bagi nafkah yang wajib disempurnakan oleh suami untuk isterinya. Antaranya Imam Syafiie yang menetapkan; jika suami kaya; ia hendaklah memberikan 2 cupak sehari untuk makanan isterinya, suami sederhana; 1 1/2 cupak dan suami miskin; 1 cupak. Adapun jumhur (majoriti) ulamak, mereka tidaklah menentukan kadar tetap, akan tetapi dirujuk kepada kemampuan suami dan juga keperluan isteri.[3] Kemampuan suami boleh berubah, begitu juga keperluan isteri. Pada ketika suami melihat keadaanya lebih senang, ia hendaklah melebihkan sedikit belanjanya untuk isteri dan isteri pula berhak menuntut peruntukan yang lebih. Begitu juga jika keperluan isteri bertambah kerana sesuatu sebab, pertambahan itu juga perlu berada dalam penilaian suami jika ia mampu meraikannya. Di dalam al-Quran, Allah amat menekan para suami agar melayani isteri dengan baik untuk mengekalkan keharmonian rumah tangga. Firman Allah (bermaksud); "Dan bergaullah kamu dengan mereka (isteri-isteri kamu itu) dengan cara yang baik" (Surah an-Nisa', ayat 19).

Mungkin kita boleh meletakkan tahap-tahap bagi perbelanjaan dengan merujuk kepada tahap-tahap maslahah manusia yang diputuskan ulamak iaitu tiga peringkat;
Pertama; (tahap keperluan paling atas); iaitu keperluan daruriyat.
Kedua; keperluan hajiyat.
Ketiga; keperluan tahsiniyat.

Keperluan daruriyat ialah yang boleh menyebabkan kerosakan hidup jika tidak diberikan. Ini merangkumi makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal yang asas. termasuk juga keperluan ilmu khususnya ilmu agama kerana tanpanya akan rosak kehidupan di akhirat. Keperluan hajiyat ialah yang bawah dari daruriyat, iaitu yang jika tidak ada tidaklah membawa kerosakan hidup, tetapi membawa kepada kehidupan yang susah, sukar dan menderita. Contohnya; perabot-perabot rumah yang asas, peralatan dapur, pakaian yang lebih sedikit dari keperluan daruriyat tadi dan sebagainya. keperluan Tahsiniyat ialah yang jika tidak ada tidaklah membawa kerosakan dan tidak juga membawa kesusahan hidup, cuma kewujudannya boleh menambah keselesaan hidup.

Balik kepada soalan yang ditanya, jika suami puan miskin, puan hendaklah berpada dengan apa yang diberinya untuk keperluan pertama (daruriyat) atau keperluan kedua (hajiyat). Jika suami puan berada, bolehlah puan meminta lebih dari itu. Suami pula hendaklah meraikan isteri jika ia mampu demi mengekalkan keharmonian rumah tangga. Di dalam hadis, Rasulullah bersabda (bermaksud); "Allah mengasihi seorang lelaki yang bertolak ansur bila menjual, bila membeli dan bila menuntut (hutangnya)" (HR Imam al-Bukhari dari Jabir). Dalam riwayat lain; "...bertolak ansur ketika membayar hutang dan menuntut hutan" (HR Imam at-Thabrani dari Jabir). Walaupu hadis ini menyentuh jual-beli dan hutang-piutang, tetapi ruh tolak ansur yang disarankan Nabi tidak ada salahnya untuk kita amalkan di mana-mana sahaja dalam kehidupan terutamanya dalam perkongsian hidup suami isteri. Maksudnya, suami bertolak ansur dalam melayani permintaan isteri dan isteri pula bertolak ansur dalam menuntut haknya.

Mengenai pemberian kepada mertua, tidaklah wajib suami memberi nafkah atau belanja untuk mertua sekalipun mertua miskin, kecualilah atas ihsan darinya sahaja. Jika ia mampu, eloklah ia memberinya kerana itu juga boleh mengukuhkan lagi kasih-sayang dengan isteri. Mertua yang miskin dan tidak mampu berkerja, ia wajib dinafkahi oleh keluarganya sendiri (iaitu bapa atau anak-anaknya), bukan menantunya. Jika mertua terpaksa bergantung hidup dengan anak perempuannya yang telah berkahwin, suami hendaklah memberi izin kepada isteri untuk menziarahi dan berkhidmat kepada ibu-bapanya (tanpa menjejaskan hak suami) dan begitu juga untuk menafkahi mereka. Jika ia tidak memberi izin tanpa sebab yang munasabah, ia berdosa dan jika isteri melanggarnya sebahagian ulamak berpandangan isteri tidak dikira nusyuz ketika itu. Adalah harus isteri memberi belanja dari duitnya sendiri kepada ibu-bapanya sekalipun tanpa izin suami, namun eloklah ia meminta izin sebagai tanda menghormati suami. Jika suami menghalang tanpa sebab, tidak dikira nusyuz jika isteri melanggarinya.

Mengenai suami mengungkit pemberiannya kepada isteri, jika dengan niat yang baik seperti untuk memperingatkan isteri supaya taat kepadanya kerana ia telah pun melaksanakan tanggungjawabnya sebagai suami (iaitu memberi nafkah mengikut yang termampu) supaya isteri membalasnya dengan melaksanakan tanggungjawabnya pula (iaitu taat dan melayani suami), ungkitan sebegitu tidaklah dilarang, malah ada ketikanya perlu dilakukan. Adapun jika ungkitan semata-mata untuk menyakiti hati isteri, tidaklah harus dilakukan kerana ia menyalahi pergaulan yang yang disuruh oleh Allah dalam ayat tadi.

Wallahu a'lam.

Nota;

[1] Memberi nafkah bermaksud mencukupkan keperluan hidup merangkumi makanan, pakaian dan keperluan-keperluan lain (at-Tahwir wa an-Tanwir).
[2] Lafaz bahasa Arabnya ialah "Bil-Ma'ruf", al-makruf bermaksud; mengikut kebiasaan masyarakat setempat iaitu berdasarkan pengamalan yang diterima oleh orang ramai di sesuatu tempat selama ia tidak bercanggah dengan ketetapan Syariat (at-Tahwir wa an-Tanwir).
[3] Sebenarnya terdapat tiga pandangan ulamak dalam menetapkan ukuran yang hendak dipakai bagi menentukan kadar nafkah yang sewajarnya bagi isteri;
A) Pandangan pertama; hendaklah dilihat kepada keadaan suami (kaya, miskin atau sederhana). Pandangan ini diutarakan oleh Imam Syafiie dengan berdalilkan ayat di atas.
B) Pandangan kedua; dengan melihat keperluan isteri. Pandangan ini diutarakan oleh Imam Abu Hanifah dan Imam Malik dengan berdalilkan hadis Hindun di atas.
C) Pandangan ketiga; dengan mengambil kira kedua-dua sekali iaitu keadaan suami dan juga keperluan isteri. Pandangan ini diutarakan oleh Imam Ahmad berdalilkan ayat dan juga hadis di atas iaitu dengan memadankan kedua-duanya. Pandangan inilah yang kita pilih di atas kerana ia meraikan kedua-dua dalil di atas.
(al-Mughni, Imam Ibnu Qudamah, juzuk 8, kitab an-Nafaqaat).      

Rujukan;

1. Tafsir al-Qurtubi, Surah at-Talaq, ayat 7.
2. At-Tahwir wa at-Tanwir, Syeikh Muhammad at-Tahir ibnu Asyur, Surah at-Talaq, ayat 7.
3. Al-Mughni, Imam Ibnu Qudamah, juzuk 8, kitab an-Nafaqaat.
4. Nailul-Autar, Kitab an-Nafaqaat, bab al-Mar,ah Tunfiqu Min Mali az-Zauji min Ghair 'ilmihi..
Read more ...

Hukum isteri orang makan dengan lelaki bujang

SAYA seorang isteri yang baru berumah tangga. Suami dan emak saya bekerja satu pejabat dengan saya.
Saya mempunyai seorang kawan lelaki bujang sama unit dengan saya.
Sehingga ke hari ini saya masih berkawan dengan lelaki bujang itu. Kami berkawan hanya di pejabat sahaja seperti pergi minum di kantin bersama, tetapi tidak pernah keluar di luar pejabat.

Suami dan emak mengetahui hubungan itu dan membenarkan jika saya minum dengan lelaki berkenaan. Apakah berdosa sebagai isteri saya berkawan dengan lelaki bujang itu?


Jawapan :

ISLAM membenarkan pergaulan antara lelaki dan wanita dengan batas tertentu.

Ini jelas apabila Allah berfirman: “Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman itu supaya menyekat pandangan mereka (daripada yang diharamkan) dan memelihara kehormatan mereka; dan janganlah mereka menzahirkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya; dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka dan janganlah mereka memperlihat�kan perhiasan tubuh mereka melainkan kepada suami mereka, atau bapa mereka, atau bapa mentua mereka, atau anak-anak mereka, atau anak-anak tiri mereka, atau saudara-saudara mereka atau anak bagi saudara mereka yang lelaki, atau anak bagi saudara mereka yang perempuan, atau perempuan-perempuan Islam, atau hamba-hamba mereka, atau orang gaji dari orang lelaki yang telah tua dan tidak keinginan kepada perempuan, atau kanak-kanak yang belum mengerti lagi mengenai aurat perempuan; dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa yang tersembunyi dari perhiasan mereka; dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang yang beriman, supaya kamu berjaya.” (Surah al-Nur ayat 31)

Dengan mematuhi tata cara pergaulan sebagaimana yang dianjurkan dalam ayat al-Quran, seseorang wanita dapat menyelamatkan dirinya daripada melakukan maksiat dan tersebar fitnah jahat.

Begitu juga apa yang seharusnya puan lakukan. Selain itu, perlu ada perubahan dalam hidup puan selepas berumahtangga iaitu dengan menumpukan kepada rumah tangga dan suami.

Adalah baiknya untuk keluar makan bersama suami berbanding dengan teman sejawat selepas berumah tangga.

Read more ...

Hukum wasiat organ badan

APAKAH hukumnya mewasiatkan sebahagian organ badan kita selepas meninggal dunia?

jawapan :

ISLAM membenarkan pemindahan organ seperti hati, buah pinggang, kornea mata dan jantung daripada penderma sama ada yang masih hidup atau yang sudah meninggal dunia kepada pesakit.

Dengan pemindahan organ terbabit mungkin dapat menyembuhkan pesakit atau menyelamatkan nyawanya. Beberapa perkara perlu diberi perhatian antaranya keselamatan serta kemudaratan kepada penderma dan pesakit.

Syarat asas rawatan ialah ia satu-satu rawatan yang boleh menyelamatkan pesakit, peratus kejayaannya tinggi, penderma bersetuju sebelum kematiannya dan persetujuan pesakit.

Di samping itu, bagi penderma yang masih hidup tidak harus bagi mereka untuk menderma organ kerana boleh memberi kemudaratan kepada dirinya serta kepada mereka yang mempunyai hak ke atasnya seperti suami isteri.
Read more ...

10 Mei 2011

Ustaz Beri Pandangan Isu Musibah Besar Melanda Dunia Tahun 2012


Salam kepada semua muslimin dan muslimat semoga anda berada dibawah naungan iman, saya sentiasa berdoa semoga anda berada dalam keadaan sihat selalu dan dimurahkan rezeki. Saya menerima email dari kawan dan meminta saya kaji dan memberikan pandangan perkara ini di dalam blog saya. Dengan rasa tanggungjawab dan berbekalkan sedikit ilmu, saya cuba memberikan pandangan sekadar mampu saya. Kalau kawan-kawan semua ada pandangan boleh berikan komen di bawah artikel ini. Saya mengharapkan komen anda semua untuk kebaikan umat.

Ini isi email kawan saya :

"Cuba kira... 1 Ramadan pada tahun 2012 jatuh pada 20 july hari jumaat,jadi 3 august 2012 bersamaan 15 ramadan jatuh juga hari jumaat.Sama dengan hadis nabi pasai huru hara besar yang akan jadi pada tengah malam pertengahan bulan ramadan iaitu hari jumaat 15 ramadan dekat bumi ni yang akan mengejutkan semua orang yang sedang tidur, pasal satu suara yang amat dahsyat akan kita dengar dekat langit,bukan kiamat tapi huru hara tersebut akan melenyapkan umat manusia di atas muka bumi ini sebanyak 2/3,yang tinggal cuma 1/3 shj .(yang NASA Amerika dok bagitau pada 21-12-2012 planet X akan lintas dekat bumi ni)Adakah kita semua ni tergolong dalam 1/3 tu..ALLAH sahaja maha mengetahui..cuba kita tengok hadis nabi kat bawah ni dan kenyataan pasal calender islam 2012.

Nu'aim bin Hammad meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Rasulullah saw. bersabda:Bila telah muncul suara di bulan Ramadhan, maka akan terjadi huru-hara di bulan Syawwal...". Kami bertanya: "Suara apakah, ya Rasulullah?" Beliau menjawab: "Suara keras di pertengahan bulan Ramadhan, pada malam Jum'at, akan muncul suara keras yang membangunkan orang tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar dari ping ita nnya, pada malam Jum'at di tahun terjadinya banyak gempa.. Jika kalian telah melaksanakan shalat Subuh pada hari Jum'at, masuklah kalian ke dalam rumah kalian, tutuplah pintu-pintunya, sumbatlah lubang-lubangnya, dan selimutilah diri kalian, sumbatlah te lin ga kalian. Jika kalian merasakan adanya suara menggelegar, maka bersujudlah kalian kepada Allah dan ucapkanlah: "Mahasuci Al-Quddus, Mahasuci Al-Quddus, Rabb kami Al-Quddus!", karena barangsiapa melakukan hal itu akan selamat, tetapi barangsiapa yang tidak melakukan hal itu akan binasa".

Komen saya :

Hasil pertanyaan saya kepada sahabat saya Musa Muhammad, beliau mengatakan bahawa hadis ini adalah palsu. Tetapi di sini saya hanya nak menyentuh secara umum sahaja kerana saya takut pandangan yang akan diberikan ini silap. Berdasarkan isu yang menjadi hangat di seluruh dunia, iaitu akan berlaku musibah yang sangat dahsyat pada tahun 2012 nanti. Di sini saya ingin mengatakan bahawa setiap perkara yang telah berlaku dan akan berlaku adalah dari kehendak Allah, sepertimana firman Allah yang bermaksud : "Apabila Allah menghendaki sesuatu, maka jadilah ia" (Surah Yassin : 72).

Jika dilihat dalam ilmu tauhid, sifat harus bagi Allah ialah "kunfayakun" yang bermaksud jika Allah berkehendak maka jadilah perkara itu tanpa ada sekatan dan halangan. Pesanan saya, kita dijadikan di dunia ini adalah hanya semata-mata menghambakan diri kepada Allah. Marilah kita mencari bekalan akhirat dengan sebanyak yang mungkin untuk melayakkan kita masuk ke syurga Allah dan terlepas dari siksaan api neraka Allah. Banyakkan memohon ampun kepada Allah akan segala dosa yang telah dilakukan. Sesiapa yang solat lewat pada waktunya, segeralah mengerjakan solat tepat pada waktunya, sesiapa yang tidak bertudung kembalilah bertudung sepertimana yang telah disyariatkan Allah, Sesiapa yang bertudung pendek dan menampakkan dadanya maka labuhkanlah tudungnya, sesiapa yang derhaka kepada kedua ibu bapanya, segeralah memohon ampun kepada kedua ibu bapanya, Sesiapa yang banyak melakukan dosa, segeralah ia memohon ampun kepada Allah dengan sebenar taubat. Bersedialah sebagai hamba Allah yang sentiasa menanti waktu untuk bertemu Allah dengan keadaan yang bersih sepertimana kain putih yang bersih.

Awas !!! jangan sesekali melaksanakan amalan kepada Allah berdasarkan takut akan berlakunya musibah yang besar pada tahun 2012. Saya takut hal ini menjadi permainan pihak musuh Islam untuk memusnahkan umat Islam dengan cara menggunakan Islam, sepertimana berlaku di Aceh dan negara-negara Islam sebelum ini. Jangan sesekali kita abaikan pekerjaan kita semata-mata beribadah sehingga abaikan tanggungjawab kita membangunkan negara. Ingatlah kerja juga merupakan ibadah jika pekerjaan yang dilakukan kerana Allah.

Sebagai umat Islam, selagimana para ulamak tidak mengeluarkan fatwa mengenai perkara ini atau perkara-perkara lain, janganlah takut dan gentar, takutlah kepada Allah sahaja sesungguhnya siksaan Allah amat dahsyat dari itu. Bersedialah mencari sebanyak yang mungkin pahala dan amalan kebaikan untuk bekalan dihari kelak nanti.

Read more ...